Selasa, 24 Desember 2013

Contoh Angket Motivasi

SEKEDAR CONTOH ANGKET RESPON SISWA
1.        Bagaimana tanggapan kalian tentang pembelajaran PKn dengan cara meminta untuk mempersiapkan melakukan penelitian?
a.     Sangat menantang                               c. Kurang menantang
b.    Menantang                                          d. Tidak menantang
2.        Jika No.1 kalian menjawab c atau d, tunjukkan bagian mana yang kurang menantang dan tidak menantang ……
3.        Apakah pembelajaran PKn dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar membantu memahami materi HAM?
a. Sangat membantu
c. Tidak membantu
b. Membantu
d. Sangat tidak membantu
4.        Apakah pembelajaran PKn dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar membantu meningkatkan kemampuan menulis karya ilmiah?
a.    Sangat membantu                                            c. Tidak membantu
b.    Membantu                                                       d. Sangat tidak membantu
5.        Apakah pembelajaran PKn dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar membantu meningkatkan kemampuan berpikir?
a.    Sangat membantu                                            c. Tidak membantu
b.    Membantu                                                       d. Sangat tidak membantu
6.        Apakah pembelajaran PKn dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar membantu meningkatkan kemampuan bekerja sama?
a. Sangat membantu
c. Tidak membantu
b. Membantu
d. Sangat tidak membantu
7.        Media gambar  yang disajikan sederhana (jika ada media)
a.  Ya                                                                   b. Tidak
8.        Pesan yang disampaikan dalam media gambar
a.    Sangat jelas                                                     c. Kurang jelas
b.    Jelas                                                                 d. Tidak jelas
9.        Jika No. 8  kalian menjawab c atau d tunjukkan bagian mana yang kurang jelas dan tidak jelas …….
10.    Dan lain-lain silahkan dikembangkan lebih lanjut, misalnya waktu presentasi, diberi penjelasan melakukan penyelidikan dll


ANGKET MOTIVASI SISWA
1.        Selama persiapan melakukan penyelidikan, pembelajaran PKn .....
a. Lebih menarik
c. Biasa saja
b. Menarik
d. Membosankan
2.        Selama belajar mengajar dengan melakukan penyelidikan, pembelajaran PKn .....
a. Lebih menarik
c. Biasa saja
b. Menarik
d. Membosankan
3.        Selama pembelajaran dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar, saya lebih bersemangat untuk mencatat bagian-bagian penting yang dijelaskan oleh guru
a. Ya
b. Tidak
4.    Pembelajaran dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar, saya lebih bersemangat untuk membaca materi pelajaran.
a. Ya
b. Tidak
5.        Pembelajaran dengan melakukan penyelidikan di lingkungan sekitar, saya lebih bersemangat untuk bertanya kepada guru jika ada materi yang tidak mengerti
a. Selalu                                                               c. Jarang
b. Sering                                                               d. Tidak Pernah

5. Dan lain-lain dikembangkan sendiri

Foto Kegiatan Workshop PTK 2013

Rangkaian Kegiatan Workshop PTK
MGMP PKn SMP Kab. Mojokerto
Tahun 2013







Problem Based learning

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan di Indonesia merupakan salah satu sarana untuk  mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen yang tinggi untuk mempertahankan dan menjaga keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hakikat Negara kesatuan Republik Indonesia adalah Negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah Negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme yaitu tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah suatu Negara yang walaupun warga masyarakatnya berbeda- beda agama, ras, etnik, atau golongannya (Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI, Sekretariat Negera Republik Indonesia, 1998)
Komitmen yang tinggi  terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus secara  demokratis.
Demokrasi dalam suatu Negara akan  tumbuh subur apabila dijaga oleh warga Negara yang memiliki kehidupan  demokratis, memberikan suara dalam perdebatan umum, memilih wakil-wakil yang dapat dimintai tanggung jawab atas tindakannya, dan menerima perlunya toleransi dan mufakat di muka umum. Wargangara yang demokratis pada hakikatnya bukan hanya dapat menikmati hak kebebasan individu, tetapi juga harus memikul tanggung jawab bersama-sama dengan yang lain untuk membentuk masa depan yang akan terus menjaga nilai-nilai mendasar kebebasan dan pemerintah sendiri.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berfungsi untuk membentuk warganegara yang cerdas, terampil, berkarakter baik, serta setia kepada bengsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa tentang budaya kebersamaan atau persatuan yang dapat mendukung tetap tegak Negara kesatuan Republik Indonesia.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (KBK 2004 dan Standar Isi 2006) ditegaskan bahwa :
I. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan :
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai tujuan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik dalam hal :
(1)     berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan
(2)     berpartisipasi secara cerdas  dan bertanggung jawab, erta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
(3)     Pembentukan diri yang didasarkan pada karakter-karakter positif masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang demokratis


II. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
Standar isi Pendidikan Kewarganegaraan:
1. Memahami dan menunjukkan sikap positif terhadap norma,norma kebiasaan, adat istiadat, dan peraturan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
2. Menjelaskan makna proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sesuai suasan kebatinan konstitusi pertama
3. Menghargai perbedaan dan kemerdekaan dalam mengemukakan pendapat dengan tanggung jawab
4. Menampilkan perilaku yang baik sesuai nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945
5. Menunjukkan sikap positif terhadap pelaksanaan demokrasi dan kedaulatan rakyat
6. Menjelaskan makna otonomi daerah, dan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah
7. Menunjukkan sikap kritis dan apresiatif terhadap dampak globalisasi
8. Memahami prestasi diri untuk berprestasi sesuai dengan keindividuannya.
Dari Standar Isi dan Standar Kompetensi tersebut diatas, penulis memilih butir kelima yaitu, menunjukkan sikap positif  terhadap pelaksanaan demokrasi dan kedaulatan rakyat sebagai landasan judul penelitian tindakan kelas ini.

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaran berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, masih banyak siswa yang kurang aktif bahkan acuh dalam kegiatan pembelajaran. Anak cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat dan antusias siswa dalam belajar PKn  di sekolah.
Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara lain: motivasi belajar, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti; guru sebagai Pembina kegiatan belajar, strategi, model dan media pembelajaran serta sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.
Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Student center), memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa.
Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. Dalam hal ini penulis memilih model “pembelajaran berbasis masalah”(Probem Based Learning) dalam meningkatkan kemampuan menganalisa partisipasi masyarakat dalam  pelaksanaan budaya demokrasi  sebagai wujud warga Negara yang baik dalam pemilu 2009.
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar mengajar didalam kelas dimana siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul, setelah itu tugas guru adalah merangsang untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan persfektif yang berbeda diantara mereka.
Menurut E. Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.(1) Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn.
Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model “Problem Based Learning” dalam meningkatkan kemampuan menganalisa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan budaya demokrasi pada Pemilu legislatif tahun 2009.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran model Problen Based Learning dapat meningkatkan kemampuan menganalisa  masalah  pelaksanaan  budaya  demokrasi ( pelaksanaan Pemilu legislatif 2009) ?
2. Sejauh manakah pendekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil pemahaman siswa  pada meteri budaya demokrasi ?

C. PEMECAHAN MASALAH

PKn sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan “How to Develop Better Civics Behaviours” membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek value dan moral, banyak memuat materi social kemasyarakatan. PKn merupakan salah satu dari lima tradisi pendidikan IPS yakni citizenship transmission, saat ini sudah berkembang menjadi tiga aspek PKn (Citizenship Education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler dan aspek sosial budaya.
 Secara akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya kewarganegaraan individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan sebagai landasan kajiannya (2).
Implementasiya sangat dibutuhkan guru yang profesional, guru yang profesional dituntut menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain :
1. Kemampuan menguasai bahan ajar
2. Kemampuan dalam mengelola kelas
3. Kemampuan dalam menggunakan metode, media dan sumber belajar
4. Kemampuan untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil
Dari uraian analisis permasalahan diatas, pendekatan model Problem Based Learning apabila diterapkan di kelas akan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pelaksanaan budaya demokrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

D. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelititan Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kemampuan menganalisa pelaksanaan Budaya Demokrasi dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009  pada mata pelajaran Pendidikian Kewarganegaraan khususnya kelas VIII C pada SMPN 1 Pacet, sehingga pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan kreatifitas.

E. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Secara teoritis dan praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
1. Memperbaiki proses belajar mengajar dalam pelajaran PKn di SMP Negeri 1 Pacet.
2. Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan pedidikan kewarganegaraan di Sekolah Menengah Pertama.
3. Memberikan alternatif kegiatan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
4. Menciptakan rasa senang belajar Pendidikan Kewarganegaraan selama pelajaran berlangsung dengan adanya “The Involvement of Participaton melalui Problem Based Learning.”



BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A.   KAJIAN TEORI
1. Hakekat Pembelajaran PKn
a. Pengertian belajar
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach.
Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, megarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan
Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, yaitu :
1. Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.
2. Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik
3. Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka dengan meminimalkan perbedaan dan berusaha mencari persamaan.
4. Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga siswa menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).

b. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building” :
Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara.
Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.
Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experience).
Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy), tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.

B. KERANGKA BERPIKIR
1. Meningkatkan hasil belajar PKn melalui model Problem Based Learning
Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendir, masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes (formatif, subsumatif dan sumatif), unjuk kerja (performance), penugasan (Proyek), hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.
Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan model pembelajara interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem Based Learning. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka.
Dari uraian diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa dibandingkan dengan pendekatan tradisional (metode ceramah).
2. Pendekatan dan penerapan model Problem Based Learning dalam mata pelajaran PKn
Pembelajaran model Problem Based Learning berlangung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa megerti apa makna belajar, apa manfaatya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang bergua bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide.
Dalam pembelajaran model Problem Based Learning tugas guru mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pngetahuan baru, dan memfasilitasi belajar. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Dari pembahasan diatas dapat diasumsikan bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan kreatif, dan menyenangkan sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja kelompok, belajar dari model yang sebenarnya, bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara harapan (das Sein) dengan kenyataan (das sollen)  sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bukan hanya sekedar hasil menghapal materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata (analisa kasus-kasus) yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas)




C. HIPOTESIS TINDAKAN
Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa:
1. Pedekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisa permasalahan berdasarkan konsep dan fakta melalui pembelajaran efektif, aktif dan kreatif serta menyenangkan

2. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran PKn siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Pacet

Game Kwartet

BAB  I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang memperlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidik dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas-tunas  muda harapan bangsa sebagai generasi penerus yang akan dibentuk karakternya sebagai generasi yang tangguh.
 Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang lebih mengedepankan pembentukan sikap, watak dan prilaku bagi generasi muda untuk menjadi warga negara yang baik, akan tetapi hingga saat ini  Pendidikan kewarganegraan masih  dianggap oleh sebagian besar siswa sebagai mata pelajaran yang kurang menarik, kurang diminati, kurang menantang bahkan dapat disimpulkan membosankan bagi siswa. Sehingga mayoritas siswa terkesan meremehkan bahkan acuh. Hal ini lebih disebabkan minimnya keterampilan atau kurang variatifnya seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam mengelola Kegiatan Proses Belajar Mengajarnya misalnya dalam proses pembelajaran monoton pada metode ceramah dan tanya jawab.
     Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan karakter diri yang multidimensi mulai dari dimensi agama,sosio-kultural,bahasa, usia dan suku bangsa untuk mempersiapkan generasi muda warga Negara Indonesia yang cerdas,terampil dan berkarakter yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945. Cakupan materi Pendidikan Kewarganegaraan tersusun berdasarkan karakteristik mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, perkembangan peserta didik dan sumber daya yang tersedia, dan dimana salah satu materinya adalah  tentang pengertian otonomi daerah.
     Otonomi daerah merupakan salah satu materi Pendidikan Kewarganegaraan yang lebih mengarah pada ranah kognitif dan sifatnya cenderung verbalisme yang sulit hanya dicapai melalui ceramah saja.  Dengan diberlakukanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memberi peluang yang sangat besar kepada Sekolah dan Guru, yang mana sekolah dan guru tidak hanya sebagai pelaksana kurikulum dan pembelajaran saja, akan tetapi sekolah dan guru akan menjelma  menjadi pengambil keputusan ( decision making ) dalam perencanaan, pelaksanaan kurikulum dalam proses pembelajaran. Maka seorang guru mempunyai lebih banyak kesempatan untuk dapat mengembangkan dan menemukan berbagai ide dalam merancang setiap proses pembelajarannya dengan sebaik-baiknya melalui berbagai strategi, pendekatan, metode ataupun media.

Untuk mencapai sebagaimana yang diharapkan mengenai tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Penulis mencoba melakukan langkah-langkah dalam Kegiatan Pembelajaran yang salah satunya dengan menggunakan media permainan kartu kwartet, dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan dengan harapan tujuan dari pembalajaran Pendidikan Kewarganegaraan akan tercapai dengan maksimal.

B.  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan hasil identifikasi, dalam Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
Apakah penggunaan model pembelajaran permainan kartu kwartet dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn pada kompetensi dasar mendiskripsikan pengertian Otonomi Daerah siswa Kelas IX A di SMP Negeri 1 Pacet Kabupaten Mojokerto semester 1 tahun pelajaran 2013 / 2014?

C.Tindakan yang dilakukan
Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pokok bahasan Mendiskripsikan pengertian otonomi daerah adalah dengan menggunakan model pembelajaran permainan kartu kwartet.

D.Hipotesis tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan “ Jika Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada kompetensi dasar mendiskripskan pengertian otonomi daerah menggunakan model Pembelajaran permainan kartu kwartet, maka motivasi belajar siswa meningkat.”


E.Tujuan dan manfaat
1.Tujuan Penelitian
   Dengan berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan penelitian tindakan Kelas   ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ingin mengetahui berapa besar peningkatan motivasi belajar siswa pada kompetensi dasar mendiskripsikan pengertian otonomi daerah  dengan menggunakan model pembelajaran permainan kartu kwartet.

2. Manfaat Penelitian
   Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah:
a.    Bagi Siswa, diharapkan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran permainan kartu kwartet maka akan meningkatkan motivasi belajar siswa dan menumbuhkan daya saing/kompetisi antar siswa untuk menjadi yang terbaik serta menumbuhkan tanggung jawab dan kerjasama dalam kelompok.
b.    Bagi Guru,diperolehnya cara yang efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran, mendorong guru untuk terus meningkatkan profesinalisme guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
c.    Bagi Sekolah, Hasil pembelajaran sebagai umpan balik untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran dan meningkatkan kualitas atau mutu sekolah melalui peningkatan motivasi belajar siswa dan kinerja guru.




BAB  II
KAJIAN PUSTAKA

  1. Pembelajaran Pendidilan Kewarganegaraan
1. Hakekat Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil bila siswa secara aktif mengalami sendiri proses belajarnya. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1996 : 14 ) Pembelajaran diartikan sebagai proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedang Imansjah Alipandie ( 1984 : 50 ) mengajar ialah suatu aktivitas mengorganisasikan (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Pengertian ini meliputi faktor guru, anak dan lingkungan yang diorganisir dalam bentuk bahan pengajaran yang ketiga-tiganya mendapat perhatian guna memperoleh hasil yang sebaik-baiknya.
Lebih lanjut A.Kosasih Djahiri dalam buku 2 materi pelatihan terintegrasi Pendidikan Kewarganegaraan (2005 : 8) pada proses pembelajaran prinsip utamanya adalah proses keterlibatan seluruh/sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan non fisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya sa’at ini dan yang akan datang (life skill).
Jadi jelas hakekat pembelajaran itu adanya suatu aktivitas yang melibatkan guru, siswa dan lingkungan yang dipadukan secara selaras, serasi dan seimbang, sehingga menghasilkan suatu perubahan yang sesuai dengan harapan.

1.    Pengertian pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan ( Civic Education) adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945 ( BNSP, 2006 : 2 ).

2.    Visi dan Misi Pendidiakan Kewarganegaraan
                 Visi Pendidikan Kewarganegaraan
Visi Pendidikan Kewarganegaraan  adalah mewujudkan proses pendidikan yang terarah pada pengembangan kemampuan individu sehingga menjadi warga negara yang cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab, yang pada gilirannya mampu mendukung berkembangnya kehidupan masyarakat bangsa dan negara Indonesia yang cerdas.
Misi Pendidikan Kewarganegaraan
Agar Visi Pendidikan Kewarganegaraan sebagaiman yang telah ditetapkan dapat tercapai, maka perlu ditindaklanjuti dengan misinya, yaitu :
a.    Memanfa’atkan kenyataan dan kecenderungan masyarakat yang semakin transparan, tuntutan kendali mutu yang semakin mendesak, dan proses demokrasi yang semakin meluas sebagai konteks dan orientasi peandidikan demokratis.
b.    Memanfa’atkan subtansi berbagai disiplin ilmu yang relevan sebagai wahana pedagogis untuk menghasilkan dampak instruksional dan pengirinya berupa wawasan, sikap dan ketrampilan kewarganegaraan, sehingga bisa dihasilkan desain kurikulum yang bersifat interdisipliner.
c.    Memanfa’atkan berbagai konsep,prinsip, dan prosedur pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mampu belajar demokratis, dalam situasi yang demokratis, dan untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat yang lebih demokratis.
3.    Tujuan dan Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan
Secara umum Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk mengembangkan potensi individu Warga Negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan ketrampilan kewarganegaraan yang memadai, yang memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia.
Sedangkan fungsi Pendidikan Kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 ( Dirjend.PDM., 2005 : 34 )
Berdasarkan visi dan misinya, Pendidikan Kewarganegaraan dapat menjadi pengikat untuk menyatukan peserta didik yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa. Berdasarkan tujuan dan fungsinya, Pendidikan Kewarganegaraan harus dinamis dan mampu menarik perhatian peserta didik, dengan cara sekolah membantu peserta didik mengembangkan pemahaman baik materi maupun kemampuan interlektual dan partisipasi dalam kegiatan sekolah.
Dengan pembelajaran yang bermakna dan bervariatif peserta didik diharapkan dapat mengembangkan dan menerapkan kemampuan intelektual dan partisipatif yang menghasilkan pemahaman tentang  arti pemerintahan dari rakyat oleh rakyat, untuk rakyat terutama dalam pencetak peserta didik yang  ta’at, tunduk dan patuh serat paham hak dam kewajibannya sebagai bagian dari warga negara untuk meningkatkan pemahaman tentang hakikat otonomi daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan partisipasi dan peranannya dalam kualitas pelaksanaan otonomi daerah.

B.  Motivasi belajar
1.       Motivasi Belajar 
Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai “ daya penggerak yang telah menjadi aktif” (Sardiman,2001: 71). Pendapat lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah “ keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (Soeharto dkk, 2003 : 110) .
Definisi Motivasi Belajar Siswa  dalam buku psikologi pendidikan Drs.M.Dalyono memaparkan bahwa “motivasi adalah daya penggerak/pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar” (Dalyono, 2005: 55).
Dalam bukunya Ngalim Purwanto, Sartain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Tujuan adalah yang membatasi/menentukan tingkah laku organisme itu (Ngalim Purwanto, 2007 : 61).
Dengan demikian motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan dan secara khusus tujuan pembelajaran.
Belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara oleh suatu hal (Nasution, dkk: 1992: 3).
Belajar adalah suatu proses yamg ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan dalam diri seseorang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu (Sudjana,2002 :280).
Djamarah mengemukakan bahwa belajar adalah “suatu aktifitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari” (Djamarah,1991:19-21).
Sedangkan menurut Slameto belajar adalah ”merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003 : 2).
Belajar merupakan usaha yang dilakukan secara sadar untuk mendapat dari bahan yang dipelajari dan adanya perubahan dalam diri seseorang baik itu pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan tingkah lakunya. motivasi belajar merupakan sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.

2.       Jenis-jenis Motivasi Belajar
Berbicara tentang jenis dan macam motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Sardiman mengatakan bahwa motivasi itu sangat bervariasi yaitu:
1) Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
·                        Motif-motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir
·    Motif-motif yang dipelajari artinya motif yang timbul karena dipelajari.
2) Motivasi menurut pembagiaan dari woodworth dan marquis dalam sardiman:
·    Motif atau kebutuhan organis misalnya, kebutuhan minum, makan, bernafas, seksual, dan lain-lain.

·    Motof-motif darurat misalnya, menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, dan sebagainya.
·    Motif-motif objektif
3) Motivasi jasmani dan rohani
Motivasi jasmani, seperti, rileks, insting otomatis, napas dan sebagainya.Motivasi rohani, seperti kemauan atau minat.
4. Motivasi intrisik dan ekstrinsik
·    Motivasi instrisik adalah motif-motif yang terjadi aktif atau berfungsi tidak perlu diransang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
·    Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya peransang dari luar. (Sardiman, 1996: 90).
Pendapat lain mengemukakan bahwa dua jenis motivasi yaitu sebagai berikut:“Motivasi primer, adalah motivasi yang didasarkan atas motif-motif dasar. Motivasi skunder, adalah yang dipelajari” (Dimyanti dan Mudjiono, 1999:88).
Adanya berbagai jenis motivasi di atas, memberikan suatu gambaran tentang motif-motif yang ada pada setiap individu. Adapun motivasi yang berkaitan dengan mata pelajaran bahasa arab adalah motivasi ekstrinsik, dimana motivasi ini membutuhkan ransangan atau dorongan dari luar misalnya, media, baik media visual, audio, maupun audio visual serta buku-buku yang dapat menimbulkan dan memberikan inspirasi dan ransangan dalam belajar.
Adapun bentuk motivasi yang sering dilakukan disekolah adalah memberi angka, hadiah, pujian, gerakan tubuh, memberi tugas, memberi ulangan, mengetahui hasil, dan hukuman. (Djmarah dan zain, 2002 : 168). Dari kutipan di atas, maka penulis dapat menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
a)         Memberi angka
Memberikan angka (nilai) artinya adalah sebagai satu simbol dari hasil aktifitas anak didik. Dalam memberi angka (nilai) ini, semua anak didik mendapatkan hasil aktifitas yang  bervariasi. Pemberian angka kepada  anak didik diharapkan dapat memberikan dorongan atau motivasi agar hasilnya dapat lebih ditingkatkan lagi.



b)         Hadiah
Maksudnya adalah suatu pemberian berupa kenang-kenangan kepada anak didik yang berprestasi. Hadiah ini akan dapat menambah atau meningkatkan semangat (motivasi) belajarsiswa karena akan diangap sebagai suatu penghargaan yang sangat berharga bagi siswa.
c)         Pujian 
Memberikan pujian terhadap hasil kerja anak didik adalah sesuatu yang diharapkan oleh setiap individu. Adanya pujian berarti adanya suatu perhatian yang diberikan kepada siswa, sehingga semangat bersaing siswa untuk belajar akan tinggi.
d)        Gerakan tubuh
Gerakan tubuh artinya mimik, parah, wajah, gerakan tangan, gerakan kepala, yang membuat suatu perhatian terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru.Gerakan tubuh saat memberikan suatu respon dari siswa artinya siswa didalam menyimak suatu materi pelajaran lebih mudah dan gampang.
e)         Memberi tugas
Tugas merupakan suatu pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan. Pemberian tugas kepada siswa akan memberikan suatu dorongan dan motivasi kepada anak didik untuk memperhatikan segala isi pelajaran yang disampaikan.
f)          Memberikan ulangan
Ulangan adalah strategi yang paling penting untuk menguji hasil pengajaran  dan juga memberikan motivasi belajar kepada siswa untuk mengulangi pelajaran yang telah disampaikan dan diberikan oleh guru.
g)         Mengetahui hasil
Rasa ingin tahu siswa kepada sesuatu yang belum diketahui adalah suatu sifat yang ada pada setiap manusia.Dalam hal ini siswa berhak mengetahui hasil pekerjaan yang dilakukannya.
h)         Hukuman
Dalam proses belajar mengajar, memberikan sanksi kepada siswa yang melakukan kesalahan adalah hal yang harus dilakukan untuk menarik dan meningkatkan perhatian siswa. Misalnya memberikan pertanyaan kepada siswa yang bersangkutan.

3.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Dalam aktifitas belajar, seorang individu membutuhkan suatu dorongan atau motivasi sehingga sesuatu yang diinginkan dapat tercapai, dalam hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar antara lain:
1. Faktor individual
Seperti; kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.

2. Faktor sosial
Seperti; keluaga atau keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat dalambelajar, dan motivasi sosial ( Purwanto, 2002 : 102)

Dalam pendapat la
in, faktor lain yang dapat mempengaruhi belajar yakni:
a) Faktor-faktor intern
1. Faktor jasmaniah
·  Faktor cacat tubuh
2. Faktor Phsikologis
·  Intelegensi
·  Minat dan motivasi
·  Perhatian dan bakat
·  Kematangan dan kesiapan
3. Faktor kelelahan
·  Kelelahan jasmani
·  Kelelahan rohani
b) Faktor ekstern
1. Faktor keluarga
·  Cara orang tua mendidik
·  Relasi antara anggota keluarga
·  Suasana rumah
·  Keadaan gedung dan metode belajar


2. Faktor sekolah
·  Metode mengajar dan kurikulum
·  Relasi guru dan siswa
·  Disiplin sekolah
·  Alat pengajaran dan waktu sekolah
·  Keadaan gedung dan metode belajar
·  Standar pelajaran di atas ukuran dan tugas rumah
3. Faktor masyarakat
·  Kegiatan siswa dalam masyarakat
·  Mass media dan teman bergaul
·  Bentuk kehidupan masyarakat (Slameto, 1997 :71)
Adanya berbagai faktor yang mempengaruhi belajar siswa di atas, peneliti dapat memahami bahwa adanya faktor tersebut dapat memberikan suatu kejelasan tentang proses belajar yang dipahami oleh siswa. Dengan demikian seorang guru harus benar-benar memahami dan memperhatikan adanya faktor tersebut pada siswa, sehingga didalam memberikan dan melaksanakan proses belajar mengajar harus memperhatikan faktortersebut, baik dari psikologis, lingkungan dengan kata lain faktor intern dan ekstren.

Terkait dengan hal tersebut di atas, maka Dimyati dan mudjiono mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain :
1.    Cita-cita / aspirasi siswa
Cita-cita merupakan satu kata tertanam dalam jiwa seorang individu. Cita-cita merupakan angan-angan yang ada di imajinasi seorang individu, dimana cita-cita tersebut dapat dicapai akan memberikan suatu kemungkinan tersendiri pada individu tersebut. Adanya cita-cita juga diiringi oleh perkembangan dan pertumbuhan keperibadian individu yang akan menimbulkan motivasi yang besar untuk meraih cita-cita atau kegiatan yang diinginkan.
2.    Kemampuan siswa
Kemampuan dan kecakapan setiap individu akan memperkuat adanya motivasi. kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan membaca, memahami sehingga dorongan yang ada pada diri individu akan makin tinggi.


3.    Kondisi siswa dan lingkungan
Kondisi siwa adalah kondisi rohani dan jasmani. Apabila kondisi stabil dan sehat maka motivasi siswa akan bertambah dan prestasinya akan meningkat. Begitu juga  dengan kondisi lingkungan siswa (keluarga dan masyarakat) mendukung, maka motivasi pasti ada dan tidak akan menghilang.
Unsur-unsur dinamis dalam 
belajar
Dinamis artinya seorang individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, tempat dimana seorang individu akan memperoleh pengalaman.
4.    Upaya guru dalam membelajarkan siswa. (Dimyati dan Mudjiono, 1999 : 100)
Guru adalah seorang sosok yang dikagumi dan insan yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Seorang guru dituntut untuk  profesional dan memiliki keterampilan.Dalam suatu kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan tidak terlepas dari adanya fungsi dan kegunaan. Motivasi dalam belajar yang merupakan suatu dorongan memiliki fungsi, yang dikemukakan oleh seorang ahli yaitu:
·       Mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak. Motif untuk berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor penggerak melepaskan energi.
·       Menentukan arah perbuatan yaitu petunjuk suatu tujuan yang hendak dicapai
·       Menyelesaikan perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang akan dikerjakan ynag serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. (Purwanto, 2002 : 70).
C.  Meningkatkan Motifasi Belajar
       Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru merupakan kunci dalam proses belajar mengajar. Bila hal ini dilihat dari segi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya.Nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru bidang studi yang diajarkanya. Walau demikian nilai lebih itu tidak akan dapat diandalkan oleh guru, apabila ia tidak memiliki teknik-teknik yang tepat untuk mentransferkan pengetahuannya kepada siswa. Disamping itu kegiatan mengajar adalah satu aktivitas yang sangat kompleks, karena itu sangat sukar bagi guru Pendidikan Kewarganegaraauntuk memilih bagaimana caranya mengajar dengan baik aagr dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan .
          Untuk merealisasikan keinginan tersebut, maka ada beberapa prinsip umum yang harus dipegang oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan  dalam menjalankan tugasnya.
Menurut Prof. Dr. S. Nasution, prinsip-prinsip umum yang harus dipegang oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan  dalam menjalankan tugasnya, yaitu sebagai berikut :
1.      Guru yang baik memahami dan menghormaati siswa.
2.      Guru yang bsik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya.
3.      guru hendaknya menyesuikan bahan pelajaran yang diberikan dengan kemampuan siswa.
4.      Guru hendaknya menyesuaikan metode pengajar dengan pelajarannya.
5.      Guru yang baik mengaktifkan siswa dalam belajar.
6.      Guru yang baik memberikan pengertian, bukan hanya dengan kata-kata belaka. Hal ini untuk menghindari verbalisme pada murid.
7.      Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan nyata siswa.
8.      Guru terkait dengan teks book.
9.      Guru yang baik tidak hanya mengjar dalam arti menyampaikan pengetahuan, melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya.
Sehubungan dengan upaya meningkatkan motivasi belajar siswa ada dua prinsip yang harus diperhatikan oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. Suton sebagi berikut :
1.      Menyelidiki dengan jelas dan tegas apa yang diharapkan dari pelajaran untuk di pelajari dan mengapa ia diharapkan mempelajarinya.
2.      Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingnya memiliki skill dan pengetahuan yang akan diberikan oleh program pendidikn itu.
                Dari prinsip-prinsip umum di atas, menunjukkan bahwa peran guru Pendidikan Kewarganegaraan  dalam mengajar dapat dikaatkan sangat dominan, begitu pula dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, tampaknya guru yang lebih banyak mengetahui akan kemampuan siswa-siswanya baik secara individual maupun secara kelompok, guru mengetahui persoalan-persoalan belajar dan mengajar, guru pula yang mengetahui kesulitan-kesulitan siswa terhadap pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  dan bagaimana cara memecahkannya.



D.    Media Permainan kartu kwartet

1.    Penggunaan media permaianan dalam pembelajaran
Salah satu media yang dapat digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah media permainan. Permainan adalah setiap konteks antara pemain yang berinteraksi satu sama lain dengan mengikuti aturan-aturan tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pula.  Permainan dapat menjadi sumber belajar atau media belajar apabila permainan tersebut bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan atau pembelajaran.
Anak dapat belajar berbagai kesempatan dan kegiatan baik didalam sekolah maupun diluar sekolah. Permainan dapat membuat suasana lingkungan belajar menjadi menyenangkan, segar, hidup, bahagia, santai namun tetap memiliki suasana belajar yang kondusif . Menurut Piageat, bermain adalah manifestasi penyesuaian , salah satu dasar proses-proses mental menuju pada pertumbuhan intelektual dan bermain merupakan suatu mekanisme penyesuaian yang penting bagi perkembangan atau pertumbuhan manusia.
Menurut Sadiman (2006) sebagai media pembelajaran, permainan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu : permainan adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, sesuatu yang menghibur dan menarik. Permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar.  Permainan dapat memberikan umpan balik langsung, permainan memungkinkan siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata. Permainan juga memberikan pengalaman-pengalaman nyata dan dapat diulangi sebanyak yang dikehendaki, kesalahan-kesalahan operasional dapat diperbaiki. Selain itu permainan dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan komunikatifnya dan belajar dalam kelompok dengan kompetitif.

2.    Permainan kartu kwartet
Sedangkan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:448), kartu adalah kertas tebal, berbetuk persegi panjang (untuk berbagai keperluan, hampir sama dengan kartu remi). Kwartet adalah kelompok, kumpulan, dan sebagainya yang terdiri atas empat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991:533). Kartu kwartet adalah sejenis permainan yang terdiri atas beberapa jumlah kartu bergambar yang dari kartu tersebut tertera keterangan berupa tulisan yang menerangkan gambar tersebut. Biasanya tulisan judul gambar ditulis paling atas dari kartu dan tulisannya lebih diperbesar atau dipertebal. Sedangkan tulisan gambar, ditulis dua atau empat baris secara vertikal di tengah-tengah antara judul dan gambar. Tulisan yang menerangkan gambar itu biasanya ditulis dengan tinta berwarna.

Ukuran dari kartu kwartet ini biasanya beragam, ada yang ukuranya kecil dan sedang. Jumlah kartu dalam kartu kwartet ada 56 buah kartu, berarti memiliki 14 judul, yang masing-masing memiliki 4 buah kartu. Pada permainan kartu kwartet ini terlebih dahulu membentuk satu kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang. Kemudian, kartu diacak dengan cara mengocok kartunya oleh salah satu orang. Setelah itu, kartu dibagikan ke setiap orang, masing-masing mendapatkan 4 kartu, dan sisanya diletakkan di tengah-tengah area permainan. Setiap pemain harus bisa menjaga isi kartunya agar tidak diketahui oleh pemain lain.

Permainan di mulai dengan permintaan kartu dari pemain pertama (biasanya orang yang pertama memainkannya adalah orang yang mengocok kartu) kepada pemain lainnya dengan menyebutkan judul gambar yang dimiliki oleh pemain pertama (bebas untuk menentukan judul apa yang diminta). Kalau dari pemain lain ada yang judulnya sama dengan judul yang diminta oleh pemain pertama, maka kartu itu harus diberikan kepada pemain yang meminta judul itu. Dan kalau judul kartu yang diminta tidak ada dari pemain yang lain satu pun, maka pemain yang meminta judul itu harus mengambil 1 buah kartu dari tumpukan kartu yang ada, begitupun dengan pemain selanjutnya.  Kalau dari salah satu pemain sudah ada yang mengumpulkan 4 buah kartu dalam judul yang sama, maka kartu itu diletakan di samping pertanda bahwa ia sudah mendapat 1 poin. Semakin poin yang didapat, semakin besar pula kesempatan untuk menjadi pemenang. Pemain yang mengumpulkan poin terbanyak, itulah pemenangnya.

3.    Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan Menggunakan Kartu Kwartet

Dalam pembelajaran di kelas, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan rombongan belajar, masing-masing  kelompok terdiri dari 4 siswa. Kemudian, guru menjelaskan aturan main dan cara permainannya. Setelah siswa sudah jelas dengan aturan dan cara bermainnya, maka permainan bisa langsung dilakukan.  Pada saat permainan, siswa diharuskan melihat kartu  dan membaca keterangan kartu yang berwarna itu. Dan harus mengingat kartu beserta keterangan yang sudah ia lihat itu. Selama permainan berlangsung, guru memantau siswa di masing-masing  kelompok. 

Setelah permainan selesai, guru meninjau ke setiap kelompok dan menentukan siapa pemenang dari masing-masing  kelompok. Seluruh siswa dari setiap kelompok harus membuat  kesimpulan dari hasil permainan sesuai pokok bahasan yang jadi tema permaianan sehingga tersusun materi yang utuh tentang otonomi daerah.