BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan di Indonesia
merupakan salah satu sarana untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara
yang memiliki komitmen yang tinggi untuk mempertahankan dan menjaga keberadaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia .
Hakikat Negara kesatuan Republik Indonesia adalah Negara kebangsaan
modern. Negara kebangsaan modern adalah Negara yang pembentukannya didasarkan
pada semangat kebangsaan atau nasionalisme yaitu tekad suatu masyarakat untuk
membangun masa depan bersama di bawah suatu Negara yang walaupun warga
masyarakatnya berbeda- beda agama, ras, etnik, atau golongannya (Risalah Sidang
BPUPKI dan PPKI, Sekretariat Negera Republik Indonesia, 1998)
Komitmen yang tinggi terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang
mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia . Konstitusi Negara
Republik Indonesia perlu
ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia , khususnya generasi muda
sebagai generasi penerus secara
demokratis.
Demokrasi dalam suatu Negara
akan tumbuh subur apabila dijaga oleh
warga Negara yang memiliki kehidupan demokratis,
memberikan suara dalam perdebatan umum, memilih wakil-wakil yang dapat dimintai
tanggung jawab atas tindakannya, dan menerima perlunya toleransi dan mufakat di
muka umum. Wargangara yang demokratis pada hakikatnya bukan hanya dapat
menikmati hak kebebasan individu, tetapi juga harus memikul tanggung jawab
bersama-sama dengan yang lain untuk membentuk masa depan yang akan terus
menjaga nilai-nilai mendasar kebebasan dan pemerintah sendiri.
Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan berfungsi untuk membentuk warganegara yang cerdas, terampil,
berkarakter baik, serta setia kepada bengsa dan Negara Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship
Education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang
beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa tentang
budaya kebersamaan atau persatuan yang dapat mendukung tetap tegak Negara
kesatuan Republik Indonesia.
Dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (KBK 2004 dan Standar
Isi 2006) ditegaskan bahwa :
I. Tujuan
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan :
Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan mempunyai tujuan untuk memberikan kompetensi kepada peserta
didik dalam hal :
(1)
berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam
menanggapi isu kewarganegaraan
(2)
berpartisipasi
secara cerdas dan bertanggung jawab,
erta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
(3) Pembentukan
diri yang didasarkan pada karakter-karakter positif masyarakat Indonesia dan
masyarakat dunia yang demokratis
II.
Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
Standar isi Pendidikan
Kewarganegaraan:
1. Memahami
dan menunjukkan sikap positif terhadap norma,norma kebiasaan, adat istiadat,
dan peraturan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
2. Menjelaskan
makna proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sesuai suasan kebatinan
konstitusi pertama
3. Menghargai
perbedaan dan kemerdekaan dalam mengemukakan pendapat dengan tanggung jawab
4. Menampilkan
perilaku yang baik sesuai nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945
5. Menunjukkan
sikap positif terhadap pelaksanaan demokrasi dan kedaulatan rakyat
6. Menjelaskan
makna otonomi daerah, dan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah
7. Menunjukkan
sikap kritis dan apresiatif terhadap dampak globalisasi
8. Memahami prestasi diri untuk
berprestasi sesuai dengan keindividuannya.
Dari Standar Isi dan Standar
Kompetensi tersebut diatas, penulis memilih butir kelima yaitu, menunjukkan
sikap positif terhadap pelaksanaan
demokrasi dan kedaulatan rakyat sebagai landasan judul penelitian tindakan
kelas ini.
Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaran berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, masih
banyak siswa yang kurang aktif bahkan acuh dalam kegiatan pembelajaran. Anak
cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran
PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang
menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat dan antusias
siswa dalam belajar PKn di sekolah.
Banyak faktor yang menyebabkan
hasil belajar PKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor
internal antara lain: motivasi belajar, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya
diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa,
seperti; guru sebagai Pembina kegiatan belajar, strategi, model dan media
pembelajaran serta sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.
Dari
masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru dalam
pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan
penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Student center), memberikan
pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam
kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan
mental yang kaya dan kuat pada siswa.
Disinilah guru dituntut untuk
merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam
ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran
yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat
diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn.
Dalam hal ini penulis memilih model “pembelajaran berbasis masalah”(Probem Based Learning) dalam meningkatkan
kemampuan menganalisa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan budaya demokrasi sebagai wujud warga Negara yang baik dalam pemilu 2009.
Pembelajaran berbasis masalah
adalah suatu proses belajar mengajar didalam kelas dimana siswa terlebih dahulu
diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat
permasalahan-permasalahan yang muncul, setelah itu tugas guru adalah merangsang
untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru
mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan
persfektif yang berbeda diantara mereka.
Menurut E.
Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa
dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.(1)
Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa
akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM).
Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah satu
bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah
satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran PKn.
Berdasarkan
uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk
mengkaji penerapan pembelajaran model “Problem Based Learning” dalam
meningkatkan kemampuan menganalisa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan
budaya demokrasi pada Pemilu legislatif tahun 2009.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar
belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian
sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran model Problen Based Learning dapat
meningkatkan kemampuan menganalisa masalah pelaksanaan budaya demokrasi
( pelaksanaan Pemilu legislatif 2009) ?
2. Sejauh manakah pendekatan model Problem Based Learning
dapat meningkatkan hasil pemahaman siswa pada meteri budaya demokrasi ?
C. PEMECAHAN MASALAH
PKn sebagai salah satu bidang
studi yang memiliki tujuan “How to Develop Better Civics Behaviours” membekali
siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek value dan moral, banyak
memuat materi social kemasyarakatan. PKn merupakan salah satu dari lima tradisi
pendidikan IPS yakni citizenship transmission, saat ini sudah berkembang
menjadi tiga aspek PKn (Citizenship Education), yakni aspek akademis, aspek
kurikuler dan aspek sosial budaya.
Secara
akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan
telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya kewarganegaraan
individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan sebagai landasan
kajiannya (2).
Implementasiya
sangat dibutuhkan guru yang profesional, guru yang profesional dituntut
menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain :
1.
Kemampuan menguasai bahan ajar
2.
Kemampuan dalam mengelola kelas
3.
Kemampuan dalam menggunakan metode, media dan sumber belajar
4. Kemampuan untuk
melakukan penilaian baik proses maupun hasil
Dari uraian analisis
permasalahan diatas, pendekatan model Problem Based Learning apabila diterapkan
di kelas akan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pelaksanaan
budaya demokrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
D.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelititan Tindakan Kelas
ini adalah meningkatkan kemampuan menganalisa pelaksanaan Budaya Demokrasi dalam
pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 pada mata
pelajaran Pendidikian Kewarganegaraan khususnya kelas VIII C pada SMPN 1 Pacet,
sehingga pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan
kreatifitas.
E.
MANFAAT HASIL PENELITIAN
Secara teoritis dan praktis,
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
1.
Memperbaiki proses belajar mengajar dalam pelajaran PKn di SMP Negeri 1 Pacet.
2. Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan
pedidikan kewarganegaraan di Sekolah Menengah Pertama.
3.
Memberikan alternatif kegiatan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
4.
Menciptakan rasa senang belajar Pendidikan Kewarganegaraan selama pelajaran
berlangsung dengan adanya “The Involvement of Participaton melalui Problem
Based Learning.”
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. KAJIAN TEORI
1. Hakekat
Pembelajaran PKn
a.
Pengertian belajar
Belajar merupakan proses
perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement),
sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya
sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of
experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika
Serikat dari aliran Behavioural Approach.
Perubahan yang dihasilkan oleh
proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, megarah kepada kesmpurnaan,
misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti,
baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive
domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar merupakan
suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan
1.
Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa
menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh
pengetahuan.
2. Learning
to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan
Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing. Belajar dengan
melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada
kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi,
bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik
3.
Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan
orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa
prasangka dengan meminimalkan perbedaan dan berusaha mencari persamaan.
4.
Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan
ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga
pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan
menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama,
bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil
dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga siswa menjadi
manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri,
memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya
dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).
b.
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan
kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan
karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pertama : PKn merupakan
bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang
releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psokoliogi dan
disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan
kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi
warganegara.
Kedua
:
PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.
Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang
cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan
kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai
dan perilaku demokrasi.
Ketiga
:
PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang
digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan
pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn
yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam
berbagai paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik,
dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat sebagai pengalaman
langsung (hand of experience).
Keempat: kelas PKn sebagai
laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis
dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy),
tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara
demokrasi (doing democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai
alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi
siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara
menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis
kelas.
B.
KERANGKA BERPIKIR
1. Meningkatkan
hasil belajar PKn melalui model Problem Based Learning
Hasil belajar adalah segala
kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman
dan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam
kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam
rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendir,
masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
Hasil belajar PKn adalah hasil
belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa
seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa
untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang
yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia , keragaman keyakinan
(agama dan golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan
emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes (formatif, subsumatif dan
sumatif), unjuk kerja (performance), penugasan (Proyek), hasil kerja (produk),
portofolio, sikap serta penilaian diri.
Untuk meningkatkan hasil
belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi
untuk belajar. Diperlukan model pembelajara interaktif dimana guru lebih banyak
memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses
daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa
secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat
diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan
siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam
proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa
secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem Based Learning.
Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model
pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai,
siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa
diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan
permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Setelah
itu, tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam
memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan
asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka.
Dari uraian diatas dapat diduga
bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil
belajar PKn siswa dibandingkan dengan pendekatan tradisional (metode ceramah).
2. Pendekatan dan
penerapan model Problem Based Learning dalam mata pelajaran PKn
Pembelajaran model Problem
Based Learning berlangung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja
dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan
masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa megerti apa makna
belajar, apa manfaatya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya.
Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa
terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang bergua bagi dirinya dan bergumul
dengan ide-ide.
Dalam pembelajaran model
Problem Based Learning tugas guru mengatur strategi belajar, membantu
menghubungkan pengetahuan lama dengan pngetahuan baru, dan memfasilitasi
belajar. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan
keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Dari pembahasan diatas dapat diasumsikan
bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam belajar efektif dan kreatif, dan menyenangkan sehingga
siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan pengetahuan dan
keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja kelompok, belajar dari
model yang sebenarnya, bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara harapan
(das Sein) dengan kenyataan (das sollen) sehingga peningkatan hasil belajar yang
didapat bukan hanya sekedar hasil menghapal materi belaka, tetapi lebih pada
kegiatan nyata (analisa kasus-kasus) yang dikerjakan siswa pada saat melakukan
proses pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas)
C.
HIPOTESIS TINDAKAN
Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa:
1.
Pedekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
menganalisa permasalahan berdasarkan konsep dan fakta melalui pembelajaran efektif,
aktif dan kreatif serta menyenangkan
2.
Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil
belajar mata pelajaran PKn siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Pacet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar